Monday, April 22, 2019
Pilpres 2019 dan Pertarungan Merebut Hati ‘Milenial’
Tren

Pilpres 2019 dan Pertarungan Merebut Hati ‘Milenial’

themasdoyok.com – Euforia dari pemilihan presiden atau pilpres 2019 ini memang cukup mengundang perhatian banyak orang, terutama untuk penduduk Indonesia hingga kaum milenial. Diketahui bahwa Pilpres 2019 ini menjadi ajang pertarungan antaran kubu Jokowi-Ma’ruf amin dengan Prabowo-Sandiaga Uno. Dalam Pilpres kali ini memang milenial disebut-sebut sebagai sasaran utama bagi kedua kubu.

Untuk pasangan Prabowo – Sandiaga Uno diklaim sebagai representasi anak-anak muda jaman sekarang. Namun, kubu Jokowo-Ma’ruf Amin pun juga tidak mau ketinggal untuk lebih menyasar ke kaum muda Indonesia. Tim nomor 1 ini menggaet Erick Thohir sebagai ketua panitia Asian Games XVIII untuk menjadi tim suksesnya.

Merebutkan suara kaum muda menjadi salah satu target yang harus dicapai oleh masing-masing paslon Pilpres 2019 karena memang suara pemilih muda menjadi mayoritas dalam Pilpres 2019 kali ini. Milenial yang dimaksud disini adalah pemilih dengan rentang usia mulai dari 17 tahun hingga 38 tahun dimana jumlah pemilihnya mencapai 55 persen. Sehingga mau tidak mau, setiap kandidat Pilpres 2019 harus mempertimbangkan strategi untuk mendapatkan perhatian kaum milenial.

Ada yang beranggapan bahwa dalam Pilpres 2019 ini, para milenial harus memiliki sikap Avant-Garde dimana dituntut untuk kritis pada pihak yang mana pun dan melihat dari sudut pandang Helicopter View. Bersikap kritis dinilai lebih bermanfaat daripada memiliki sikap idealis yang hanya fokus pada satu paslon dan mengabaikan apapun segi keunggulan dari paslon yang satunya.

Apalagi pemilu tahun ini merupakan pemilu yang memiliki distorsi terbanyak karena adanya polarisasi masyarakat serta fragmentasi politik. Dimana suku, ras dan bahkan agama sudah mulai diikutcampurkan dalam pemilu. Dimana debat bukan hanya lagi persoalan visi misi, namun juga menguak dalam-dalam kepribadian dari masing-masing paslon. Sehingga masyarakat pun cenderung subjektif daripada objektif.

Sehingga disinillah peran kaum milenial yang seharusnya memiliki sikap yang lebih realistis untuk memilih paslon bukan hanya sekedar dari latar belakangnya saja, melainkan juga segi kenyataan apa yang mereka tawarkan. Bagi kaum milenial, berpikir kritis tak lain adalah agar milenial dapat menciptakan diskursus public yang sehat. Dimana diisi dengan ide dan gagasan serta minim sentimen.

Mengapa kaum milenial menjadi titik fokus dalam kampanye Pilpres tahun ini? Karena menurut Badan Pusat Statistik, pendidikan di Indonesia saat ini lebih maju daripada 23 tahun yang lalu. Pada tahun 1994, tamatan SM+/ Sederajat berada di prosentasi 16,36. Sedangkan untuk tahun ini sudah meningkat menjadi 36,00. Ini menunjukkan bahwa milenial saat ini memiliki intelegensia yang pastinya lebih baik. Sehingga kemanfaatannya pun harus bisa dirasakan public, salah satunya melalui pemikiran yang kritis dan logis saat Pilpres 2019 ini.

Back To Top